Taksi Online mulai Ditinggalkan?
Permenhub Nomer 26 Tahun 2017 telah
berlaku secara keseluruhan, apakah taksi online akan ditinggalkan?
Terhitung
tanggal 1 Juli 2017, Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomer 26 Tahun
2017 sudah berlaku secara keseluruhan. Dikatakan keseluruhan, karena secara
resmi, Permenhub ini sudah terbit sejak 1 April 2017, sebagai hasil revisi dari
Permenhub Nomer 32 Tahun 2016. Namun, ketika terbit pada bulan April, masih
terdapat beberapa poin yang membutuhkan masa transisi.
Selama
beberapa hari terakhir, media cetak maupun elektronik tidak luput dari berita
mengenai implementasi Permenhub Nomer 26 Tahun 2017. Poin yang paling banyak
menarik perhatian, antara lain pemberlakuan tarif atas dan tarif bawah, kuota,
serta STNK. Pemerintah pusat menyerahkan sepenuhnya kuota kepada pemerintah
daerah, karena pemerintah daerah tentu lebih memahami situasi di wilayahnnya,
khususnya dari sisi demand dan antusias masyarakat. Pemberlakukan tarif atas
dan tarif bahwa menjadi fokus driver dan konsumen serta pelaku usaha yang
terkena dampak langsung. Sementara STNK, berkaitan dengan pelaku usaha dan
driver.
Melalui
tulisan sederhana ini, penulis mencoba berpendapat mengenai dampak penerapan
tarif. Apakah dengan adanya tarif atas dan tarif bawah, taksi online akan
ditinggalkan?
Rute Pendakian Gunung Andong
Ternyata, mendaki gunung itu memang sangat menyenangkan
. . .
Saya buka tulisan kali ini dengan ucapan
Alhamdulillah. Saya meminta pada Allah SWT, minimal sekali aja selama menjalani
kehidupan ini, bisa mendaki gunung. Gunung apa aja, tapi jangan terlalu tinggi
hehe. Faktanya, saya diberi kesempatan untuk mendaki gunung untuk yang kedua
kali, setelah pertamanya sukses mendaki Gunung Merapi.
Pendakian kali ini dalam rangka perpisahan
beberapa teman Komunitas Akar Rumput karena sudah tiba waktunya untuk mengabdi
di kampung halaman atau di wilayah lain sesuai penempatan kerja. Gunung Andong,
sebuah gunung dengan ketinggian 1.726 mdpl menjadi pilihan. Tidak butuh
persiapan yang rumit dan tidak perlu latihan fisik yang signifikan.
Total anggota tim yang berangkat adalah 10
orang, jadi diputuskan untuk menyewa tenda 2 unit. Satu unit berisi 6 orang,
satunya lagi berisi 4 orang. Komposisi ini ditentukan berdasarkan gender
anggota tim, karena yang berangkat adalah 6 pria dan 4 perempuan. Mengenai
perlengkapan outdoor, tidak perlu khawatir, karena Jogja bisa disebut sebagai
surga penyewaan. Berdasarkan pengalaman saya yang masih minim, alat-alat yang
disewakan relatif komplit dan juga murah. Jadi bagi penikmat dataran tinggi, no
worry be happy.
Setelah tanya sana sini, baca travel blog,
dan sebagainya, disimpulkan bahwa dari Basecamp menuju puncak Gunung Andong
atau biasa disebut Andong Peak membutuhkan waktu maksimal 3-4 jam. Relatif
cepat bukan? Ya memang, karena Andong sendiri juga diberi julukan sebagai
gunung bagi para pendaki amatiran.
Lantas, dimana sih Gunung Andong berada?
Well, menurut Wikipedia, Gunung Andong ini terletak di Kabupaten Magelang yang
berbatasan dengan beberapa wilayah lain, yaitu Salatiga, Semarang dan Kota
Magelang. Karena gunung itu luas, pasti dong lokasi awal pendakian (basecamp),
nggak cuma satu aja. Ada beberapa dan di beberapa gunung mungkin malah banyak
(apa iya ya? Kurang tau juga).
Kami memilih Dusun Sawit sebagai basecamp
sebelum mendaki Gunung Andong. Kabarnya, jalur via Dusun Sawit adalah yang
paling landai. Dari Yogyakarta menuju Andong, berdasarkan Gmaps, waktu tempuh
kurang lebih 2 jam. Rutenya seperti ini: Jalan Magelang – Kopeng – Pasar
Ngablak – Dusun Sawit.
Awalnya kami berniat untuk berangkat di sore
hari, sekitar pukul 17.00, namun karena kondisi cuaca yang hujan tanpa henti,
kami putuskan menunggu reda, hingga akhirnya waktu keberangkatan menjadi pukul
19.00. Tepat ketika selesai sholat maghrib.
Durasi perjalanan tidak seperti yang
direncanakan, terpaksa molor karena memang kenyamanan lebih penting daripada
kecepatan. Agar nyaman, maka setiap anggota tim harus dipastikan tidak
kelaparan apalagi terkantuk-kantuk. Sebuah warung pecel lele di Magelang
menjadi lokasi pemberhentian sementara, untuk mengisi perut juga membeli bekal
untuk nanti dimakan sebelum mendaki.
Urusan makan minum selesai, buang air sudah
pada lega. Perjalanan kembali dilanjutkan.
Dari Jalan Magelang menuju Kopeng, jalanannya
menanjak terus, ya sesekali dapat datar. Tapi ini penting bagi yang ingin ke
Gunung Andong via Dusun Sawit, pastikan terlebih dulu bahwa kendaraan yang
digunakan layak jalan dan sanggup nanjak. Kalau nggak, kasihan kendaraannya
hehe.
Tiba di Dusun Sawit, langsung disambut dengan
keramahan warga sekitar. Padahal saat itu sudah jam 23.00-an, tapi baik
anak-anak sampai orang tua masih banyak ditemui. Saya pun jadi menduga, mungkin
karena wilayahnya udah jadi lokasi pendakian, dan banyak pendaki yang muncaknya
malam hari. Jadi warga sekitar sudah terbiasa begadang. Sekedar ngobrol sambil
melihat pendaki lalu lalang.
Ketika masuk Dusun Sawit, kamu juga akan
langsung disambut oleh banyaknya rumah untuk tempat istirahat. Tinggal Pilih
karena semua rumah pintunya terbuka. Artinya, mereka memang siap untuk
menyambut wisatawan atau pendaki. Ketika saya tanya, rumah ini memang disiapkan
untuk shelter para pendaki atau wisatawan. Bukanya 24 jam per 7 hari alias buka
terus. Eh tapi, kalau Bapak atau Ibu pemilik rumah ada kegiatan, beda cerita
lagi ya.
Kami memutuskan untuk istirahat sebentar di
rumah paling ujung, tepat sebelum titik awal pendakian. Pintu rumahnya terbuka
dan didalamnya sudah ada beberapa mas-mas yang sedang asyiknya ngobrol. Ketika
meihat sekeliling rumah, eh baru sadar, ini rumah bukan Cuma tempat istirahat,
tapi juga bisa mesan makan dan minum. WAAAH. MERDEKAAA. Kemerdekaan sejati bagi
para penikmat mi instan rebus dikala kedinginan melanda.
Ohiya,
Dusun Sawit ini sudah berada pada ketinggian 1.000-an lebih mdpl ya
teman-teman. Jadi better for you untuk kenakan jaket tebal kalau nggak mau
kedinginan.
Urusan perut sudah selesai, beberes dan kamar
mandi juga udah, tiba waktunya memulai pendakian. Dari Basecamp menuju Puncak
Gunung Andong, akan melewati Pos 1, Pos 2, hingga kemudian puncak. Kurang lebih
seperti gambar di bawah ini, yang saya kutip dari web pendaki.info.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Basecamp
– Pos 1
Mulai pendakian via Dusun Sawit berarti kamu
akan berjalan menelusuri jalan yang sudah di semen dimana sekelilingnya adalah
ladang penduduk, hingga nantinya tiba di gapura pendakian Gunung Andong.
Gapuranya eye catching, sempatkan diri untuk berfoto ya.
Setelah dari Gapura, masih akan berjalan di
atas jalanan yang udah di semen, dan beberapa meter kemudian disambut oleh
beberapa anak tangga yang memang dibentuk untuk memudahkan para pendaki.
Dari gapura menuju pos satu, jalanan relatif
landau, meskipun tetap membutuhkan tenaga lebih. Terutama di malam hari.
Tidak sampai sejam, kamu akan tiba di pos 1.
Ditandai dengan adanya plang Pos 1 dan sebuah gubuk kayu yang berada pada tanah
datar. Meskipun kamu kuat alias strong, disarankan untuk istirahat sebentar.
Chit chat bareng temen sambil menikmati suasana di sekitar. Karena di pos satu
ini sudah masuk wilayah hutan pinus, jadi suasanya teduh dan menenangkan
banget.
Pos
1 – Pos 2
Boleh dibilang jarak dari titik pemberhentian
satu dan lainnya tidak begitu jauh di dalam rute pendakian Gunung Andong Via
Dusun Sawit. Jika Basecamp ke Pos 1 tidak sampai sejam, begitu juga halnya Pos
1 menuju Pos 2.
Sekeliling jalan didominasi oleh hutan pinus.
Jalanan relatif landai. Namun tetap harus awas, karena tidak jarang tanahnya
licin.
Di pos 2 ini juga ada gubuk, jadi bisa
kembali berisitrahat, jika memang diperlukan. Viewnya lebih indah dibandingkan
pos 1, jadi nggak ada salahnya mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi.
Bener gak?
Pos
2 – Puncak Andong (Andong Peak)
Pendakian dari Pos 2 menuju Puncak Andong, di
tengah rute ini kamu akan menemukan sumber air. Bisa diminum. Segar dan manis
rasanya.
Setelah melewati pos 2, artinya kamu mulai menjauh
dari hutan pinus. Kemudian, di sisi kiri, kamu akan melihat betapa indahnya
Gunung Merbabu dan Gunung Merapi, serta hamparan ladang sengkedan dan warna
warni pemukiman warga.
Pos 2 sampai Puncak Andong membutuhkan waktu
kurang lebih 1 jam (ini kalau jalan santai).
Ketika tiba di Puncak Gunung Andong, kamu
jangan heran jika melihat ada warung dan kemudian para pendaki keluar masuk
membawa makanan atau minuman. Ya bener, di Puncak Andong, kurang lebih ada tiga
warung haha. Banyak ya
Setiap warung punya pangsa pasarnya
masing-masing. Ada yang di berada di tengah puncak, sisi timur, dan sisi barat.
Emang harga jualnya sama dengan di bawah? Oh
tentu beda dong teman-teman. Secara ada biaya transportasi dan sebagainya kan
untuk mengangkut logistik itu ke ketinggian 1.726 mdpl.
Harganya memang beda, namun tidak beda jauh.
Mungkin perbedaannya hanya 2 sampai 3 ribu tergantung jenis makanan atau
minumannya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Itu tadi singkat cerita mengenai pendakian
dari Basecamp hingga Puncak Gunung Andong. Kita lanjur ceritanya lagi ya.
Ketika tiba di Andong Peak 1.726 mdpl, saya
bisa pastikan bahwa kamu pasti sangat bersyukur. Pemandangannya indah banget,
terlebih kalau cuaca cerah. Kamu putar badan 360 derajat, itu isinya deretan
gunung-gunung. Mulai Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro, dan Gunung
Sumbing.
Kalau malam hari, kamu bisa lihat bukit
bintang. Bukan bintang di bukit ya, tapi itu lhoo, lampu-lampu pemukian warga
dan jalanan.
Udara yang sejuk, tumpukan awan yang
menyelimuti gunung, birunya langit dan hijaunya dedaunan, suasana ini yang akan
membuatmu ingin kembali mendaki gunung. Meskipun kaki pegal, punggung merasa
keberatan memikul tas carrier, dan momen-momen capek tapi pantas lainnya.
Sekian.
Filosofi Jalan Raya: Dare to Be Entrepreneur
Pemerintah
berupaya mendorong kenaikan persentase jumlah wirausahawan (entrepreneur)
terhadap total penduduk, sebagai salah satu faktor akselarator pertumbuhan
ekonomi. Harapannya terdapat minimal 2 persen wirausahawan, dengan berbagai
skala usaha, mulai dari mikro, kecil, maupun menengah. Asumsinya, jika satu
wirausahawan dapat menyerap tenaga kerja sedikitnya satu orang, maka dengan 2 persen
wirausahawan, dengan asumsi variabel lain tetap, maka angka pengangguran
berkurang 2 persen.
Wirausahawan
secara sederhana diartikan sebagai seseorang/kelompok yang mencurahkan waktu
untuk mendirikan dan mengembangkan usaha dengan tujuan/kepentingan tertentu, antara
lain aktualisasi diri dan pendapatan. Berdasarkan titik awal menjadi wirausahawan, maka terdapat dua tipe individu, yaitu: Pertama, wirausahawan
full time, dan kedua yaitu wirausahawan part time. Kedengarannya sudah jelas
ya, full time menunjukkan bahwa individu tersebut mencurahkan seluruh waktu
yang dimiliki untuk mendirikan dan mengembangkan usaha yang diinginkan.
Sedangkan part time, memiliki pekerjaan lain, sedangkan usaha yang hendak
dikembangkan jenisnya sampingan.
Kamu
berada di posisi yang mana?
Setidaknya
itu adalah topik yang menjadi pembahasan selama kurang lebih 3 jam, antara aku
dan teman-teman. Obrolan dimulai di sebuah toko yang baru saja dibuka sebulan
lalu, oleh salah seorang teman yang memutuskan keluar dari perusahaan
perbankan. Full timer atau part timer? Tidak ada yang bisa jawab secara tegas,
karena memang setiap piihan ada konsekunsinya.
Meskipun
begitu, Giri, ex asisten peneliti di salah satu perkebunan swasta bonafide menuturkan jika ingin berwirausaha itu harus segera direalisasikan. Entah sebagai
full timer atau part timer.
"Bisnis
itu wajar jika rugi, maklum jika baru berjalan masih sepi pembeli, namun tetap
jangan berhenti, bertahan dan berkembang", Ujar Giri. Filosofinya adalah layaknya seorang yang naik
sepeda motor atau jenis kendaraan lain, hendak masuk ke jalan raya yang ramai. Meskipun pada awalnya sulit
untuk masuk dalam riuhnya kendaraan, namun jika niat dan mau, pelan-pelan pasti
bisa. Nah nanti ketika sudah di jalan yang ramai itu, perlahan kita juga jadi
mahir cara mencari sela-sela di jalan sehingga bisa lebih lancar. Oleh karena
itu, tidak perlu khawatir apalagi takut yang berlebihan. Karena pada jalanan
itu, masing-masing kendaraan punya ruangnya masing-masing. Begitupun
pengendaranya, tidak semua memiliki tujuan yang sama.
Filosofi
yang praktis namun sarat makna.
Well,
ketika kamu hendak menjadi wirausahawan, masuk saja ke jalan raya itu.
Perhatikan jalanannya dengan seksama, pahami dimana celah-celahnya, perhatikan
merah, kuning, dan hijaunya lampu lalu lintas, dan tak lupa pakai helm atau
kencangkan seat belt.
Kenikmatan Mendaki Gunung Merapi
Selalu ada hal menantang dan menarik
yang menunggu pada setiap perjalanan….
Siapa
yang tidak tau Gunung Merapi, khususnya bagi mereka yang sudah menikmati
keindahan Jogja, baik sebagai pelajar, pelancong, terlebih lagi penduduk
setempat. Bagi warga Jogja, Gunung Merapi bahkan dijadikan salah satu acuan
arah mata angin. Kamu tidak perlu heran, ketika bertanya suatu alamat, yang
ditunjukkan bukan kapan harus belok kanan, dimana belok kiri. Justru, jalan ke
arah barat, timur, utara, atau selatan. Nah, arah utara ini patokannya adalah
Gunung Merapi. Ini kearifan lokal yang adaptif banget, pada awalnya kamu
bingung, lama kelamaan kamu menikmati dan paham kemana arah mata angin itu
dapat membawamu.
Gunung
Merapi, yang jika cuaca cerah, keindahannya sungguh menyenangkan dan
menenangkan. Tanpa awan yang menyelimutinya, kamu terasa dekat, meskipun
kenyataannya, puluhan kilometer jauhnya. Tapi bagaimana rasanya jika kamu
benar-benar tanpa jarak? Bisa berada di sisi lereng, jalur pendakian, atau
bahkan mencapai puncaknya? Ini adalah pertanyaan yang akhirnya mendorong saya
untuk mencari tau dan merasakannya langsung.
Januari
2017, sedikit demi sedikit tanda tanya itu mulai terjawab. Beberapa teman yang
tergabung di Komunitas Akar Rumput hendak mendaki gunung, dan saya mengajukan
diri untuk ikut. Dengan segala pengalaman yang telah mereka miliki, tentu saja
amatiran ini mempunyai segudang pertanyaan. Apa aja yang perlu dipersiapkan, di
gunung itu dingin aja atau dingin banget, tindakan apa aja yang dilarang, dan
masih banyak lagi. Yah seperti itulah kalau sudah berpengalaman, harus siap
menyediakan jawaban bagi petualang baru.
Cuaca
di Jogja pada bulan Januari 2017 bisa dikatakan labil, hari ini hujan tapi
besok cerah. Pagi sampai siang cerah, menjelang sore hujan deras hingga malam
tiba. Tidak perlu mahir dalam pendakian gunung untuk mengerti bahwa kenyamanan
adalah suatu yang sulit dicari ketika mendaki gunung dalam keadaan hujan,
Dengan
segala pertimbangan, teman-teman yang sudah berpengalaman mendaki gunung
memilih Merapi sebagai destinasi mereka selanjutnya, namun bagi saya adalah
pendakian pertama dalam seumur hidup. Sebuah gunung dengan ketinggian 2.930
mdpl, suhu yang beragam di musim kemarau dan musim hujan. Dan masih banyak lagi
hal-hal yang benar-benar baru saya pahami.
Pernah
dengar hipotermia? Gejala yang bisa dibilang banyak menyerang para pendaki
gunung. Hipotermia sendiri adalah suatu kondisi dimana tubuh sulit untuk
menyesuaikan suhu dingin. Fakta tersebut membuat saya khawatir, jika secara
tidak sadar adalah penderita hipotermia. Harap maklum, tiupan air conditioner
(AC) aja udah berhasil buat flu dan kedinginan. Padahal suhu yang diatur
berkisar 24oC, gimana lagi di gunung yakan, suhunya pasti lebih
rendah. Untuk mengatasinya, saya disarankan jogging di pagi hari. Jadilah
setiap hari jam 06-07 lari keliling GSP UGM, dan diakhiri dengan naik turun
tangga. Intinya, buat badan menjadi terbiasa udara dingin, dan secara tidak
langsung juga meningkatkan stamina.
Selanjutnya,
mempersiapkan alat perlengkapan seperti carrier, kompor portable, matras,
tenda, sepatu, celana, jas hujan, senter, dan lain-lain. Beruntungnya ada di
Jogja adalah banyak banget jasa sewa alat perlengkapan yang disebutkan
sebelumnya. Harga bersaing, jadi customer bisa memilih dengan leluasa. Menyesuaikan
budget dengan kualitas yang diharapkan.
Alat
perlengkapan sudah sesuai dengan yang dibutuhkan. Logistik selama perjalanan
dan pendakian sudah dibeli. Selanjutnya adalah packing. Packing yang sama
sekali tidak biasa. Bukan hanya sekedar taruh barang A di bawah, B di atas, C
diselempetin, D digulung, dan seterusnya. Pertama-tama kamu harus masukkan
matras yang telah digulung dan gulungannya dirapikan langsung di dalam carrier.
Dengan begitu, sisi kanan kiri bagian dalam carrier dapat tegak, dan ada ruang
di bagian tengah untuk memasukkan barang-barang lain. Ohya, utamakan barang
yang berat atau barang yang tidak perlu segera dipakai untuk posisi paling
bawah carrier, misalkan sleeping bag.
21
Januari 2017. Matahari terbit seperti biasa, dari ufuk timur. Cuaca cukup cerah
sebagai modal menambah kepercayaan bahwa everything is going to be fine.
Komposisi
pendakian Gunung Merapi terdiri dari 3 orang pria dan 2 orang perempuan. Satu
orang amatiran, 4 orang berpengalaman. 3 motor matic.
Kami
memilih untuk mendaki Gunung merapi via New Selo, Boyolali. Perjalanan dari
Jogja ke basecamp di New Selo ditempuh selama 2,5 jam. Mungkin bagi orang lain,
bisa lebih cepat, karena tidak perlu tersesat di jalan seperti kami hahaha.
Sebelum
mencapai basecamp, saya harus paham bahwa Dudung, motor mio biru, tidak bisa
mencapai basecamp jika berboncengan. Awalnya Dudung tidak apa-apa, namun karena
tanjakan menuju basecamp yang curam, akhirnya Dudung menyerah dan mengorok
sambil perlahan melambat, bahkan nyaris seperti mau mundur.
Basecamp
untuk pendakian gunung, tak ubahnya dengan basecamp pada umumnya. Banyak orang,
banyak motor, dan ada warung makan. Setelah motor di parker rapi, duduk
istirahat, kemudian lanjut makan. And you know what? Rasa makanannya enak
banget. Nasi kuning potongan tempe dan beberapa ayam. Sedikit menyesal kenapa
gak minta dibungkusin nasi yang lebih banyak, tambah lauk hahaha. Karena
ternyata perjalanan Jogja – New Selo, ditambah lagi cuaca dingin di Basecamp
sukses menaikkan minat makan.
Pendakian
dimulai. Langsut disambut dengan tanjakan yang boleh dibilang cukup menantang.
Meskipun baru saja berjalan, rasanya ingin kembali ke basecamp hahaha.
Motor
bolak balik melewati kami yang sedang berjalan. Jadi kepikiran ada apa
sebenarnya di atas. Mereka tidak bawa carrier, daypack, atau tas lainnya. Malah
yang perempuan bawanya tas selempang. Gak mungkin banget kan orang-orang ini
mau mendaki. Eh ternyata, ada lokasi wisata. Sepertinya enak buat makan mie
instan rebus sambil ngobrol santai membunuh waktu. Tapi kami, sebagai pendaki
hore tidak mudah terkena godaan. Pendakian jalan terus dengan sedikit selfie.
Pelan…
Pelan… Pelan
Setiap
individu punya kekuatan dan kecepatannya masing-masing. Oleh karena itu, ketika
naik gunung, kerjasama tim sangat dibutuhkan. Jika ada teman yang sudah lelah
atau sekedar ingin istirahat, maka anggota tim lainnya, tanpa paksaan, ikut
berhenti juga. And yes, saya beruntung bisa ikut dalam tim pendakian yang
kerjasamanya ciamik. Meskipun sangat sering istirahat, semuanya sama-sama
senang. Sesekali bahkan diiringi candaan.
Jadi
saudara-saudara, kami sebagai pendaki hore bolak balik disalip oleh pendaki
lain. Padahal barang bawaan mereka juga tidak kalah banyaknya. Tapi justru itu
juga gak luput jadi bahan becandaan haha.
Kalau
naik Gunung Merapi via New Selo, setelah dari basecamp, akan melewati
perkebunan warga, dan selanjutnya disambut oleh pos bayangan. Umumnya
orang-orang menempuh waktu 1 jam. Tapi karena kami sangat menikmati perjalanan,
waktu tempuh sekitar 2 jam. Pos bayangan ini juga menjadi pertanda bahwa telah
sampai di Gerbang Masuk Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Sejauh ini, ketinggian yang telah dicapai
2.072 mdpl.
Dari
gerbang masuk TGNM, selanjutnya menuju ke Pos 1, biasa dikenal Pos 1 Watu
Belah. Pendakian didominasi trek berbatu dan menanjak terjal. Pos bayangan ke
Pos 1 kami tempuh sekitar 2,5 jam. Waktu tempuh relatif lama dibandingkan orang
lain, ini karena kami menikmati masa transisi dari siang ke sore, sambil
sesekali melihat sekitar pendakian yang ternyata jurang. Tiba di pos Watu
Belah, tandanya sudah mencapai ketinggian 2.302 mdpl.
Tanpa
bonus. Ini adalah ungkapan yang tepat menggambarkan pendakian dari pos 1 ke pos
2. Medan yang harus dilalui adalah bebatuan dengan kemiringan yang cukup curam.
Perjalanan ditempuh kurang lebih 3 jam. Di tengah perjalanan pos 1 ke pos 2,
kami sempatkan diri untuk menyaksikan transisi sore hari ke malam hari.
Matahari perlahan terbenam. Kemudian cahaya dari rumah-rumah mulai bermunculan.
Layaknya bukit bintang. Menenangkan banget.
Sampai
di pos 2, tandanya sudah berada di ketinggian 2.534 mdpl. Is this real? Tanya saya
dalam hati. Bahkan saya bilang ke teman-teman, sampai di ketinggian ini aja saya sudah sangat senang. Gak disangka-sangka
Semakin
malam, jarak pandang semakin pendek dan tipis, karena tertutup kabut. Kami
memutuskan untuk berkemah di antara pos 2 dan Pasar Bubrah. Untuk mengindari
terpaan angin gunung, kami mencari lahan yang terlindung pepohonan. Thank GOD,
dapat lokasi strategis, letaknya ada di cekungan dan tertutup beberapa pohon.
Pernah
ikut Pramuka ketika sekolah, ternyata belum cukup bagi saya untuk punya
keahlian mendirikan tenda. Walhasil, saya bekerja mengikuti instruksi dari
teman-teman.
Kerjasama
tim, akan menjadi kata kunci seberapa menyenangkan pendakian. Begitu juga
halnya mendirikan tenda dan menyiapkan kelengkapannya. Setiap orang punya
kewajiban mensukseskannya.
Tenda
berhasil didirikan. Total kami bawa 2 tenda. Satu untuk logistik, satunya lagi
untuk 5 orang pendaki hore ini. Di dalam tenda, ternyata terjadi perebutan
posisi tidur. Saya heran, kenapa kok teman-teman pada gak mau tidur di sudut
tenda. Seakan membiarkan saya menikmati ruang yang luas itu. Ternyata oh
ternyata, ketika kamu tidur di sudut tenda, yang kamu alami adalah dingin yang
tidak biasa haha. Sulit dijelaskan, tapi coba aja sendiri. Ohya, jangan lupa
pakai minyak kayu putih minum suplemen menolak angin.
Pagi
hari tiba dengan suara kaki yang lalu lalang. Setelah mendirikan tenda, pola
umum bahwa para pendaki akan menuju ke puncak gunung. Ada yang berangkatnya
beberapa jam sebelum sunrise, ada juga yang tidak ingin sunrise, cukup sampai
di puncak aja. Setelah tenda berdiri, barang-barang tidak perlu dibawa ke
puncak. Cukup seadanya aja, seperti minum dan tas yang berisi barang-barang
penting.
Jauh
di dalam tenda kami, penghuninya masih menikmati tidurnya. Begitu bangun tidur,
aktivitas utama adalah masak dan menyiapkan minuman hangat. Jauh dari cita-cita
naik ke puncak. Memang, ketika sebelum mendirikan tenda, 5 pendaki hore ini
memutuskan untuk tidak sampai ke puncak. Pendakian yang melelahkan kami balas
dengan menikmati suasana di lokasi kemah, sambil menikmati makanan dan minuman
hangat. Untuk melengkapi perjalanan, maka perlu ditmabah dokumentasi.
Jauh
sebelum pendakian ini, saya adalah salah satu orang yang berpendapat bahwa
orang-orang yang mendaki gunung itu (beberapa) hanya untuk having fun atau
sekedar bisa ambil foto dengan latar belakang puncak/gunung lain. Skeptis
sekali. Tapi setelah berhasil mendaki Gunung Merapi, saya jadi paham bahwa ada
hal yang tidak bisa dibayar. Kenikmatan dari ketenangan alam. Pemandangan yang
sulit untuk dideskripsikan, tapi indahnya tak kunjung habis. Mengambil foto itu untuk tujuan dokumentasi, baik
untuk diri sendiri maupun dibagikan kepada teman-teman.
Nikmat banget. Naik gunung itu
nikmat banget. Kamu belajar bekerja sama dengan tim. Meninggalkan ego individu
untuk mensukseskan tujuan bersama. Sepanjang jalan kamu disuguhi pemandangan
yang duuuh indahnya. Suasana perjalanan yang tenang. Para pendaki yang memiliki
jiwa kekeluargaan tinggi. Saling sapa, memberikan informasi, dan menyemangati
meskipun tidak pernah kenal sebelumnya. Di dalam pendakianmu ke gunung, kamu
akan sering mendengar monggo mas, monggo mbak, pos bayangan udah deket, yok
semangat, dan lain-lain.
Pendakian
usai, tiba saatnya untuk pulang. Hal yang perlu digarisbawahi adalah apapun
yang dibawa ke atas, harus dibawa turun. Begitu juga halnya sampah
makanan/minuman, tidak boleh ditinggal di atas.
Gunung
Merapi kini tidak lagi sebatas patokan arah utara. Bukan juga sekedar
pemandangan yang dilihat jauh dari Jalan Kaliurang. Ternyata, mendaki gunung
itu buat nagih. Ditunggu destinasi selanjutnya Komunitas Akar Rumput.
Berikut
itinerary perjalanan ini:
1. Jogja
– Basecamp New Selo, Boyolai : 2,5 jam
2. Basecamp
New Selo – Pos Bayangan (Gerbang Masuk TNGM) : 2 jam
3. Pos
Bayangan – Pos 1 : 2,5 jam
4. Pos
1 – Pos 2 : 3 jam
5. Pos
2 – lokasi kemah (sebelum Pasar Bubrah) : 1 jam
Senja di Desa Tanjung
Sejak adzan ashar usai dikumandangkan, tiba saatnya
bagi beberapa putra Desa Tanjung untuk bermain sepakbola. Tanpa sms, tak perlu
telfon, mereka seperti sudah saling paham bahwa teman-temannya pasti ada di
lapangan yang letaknya ada di tengah-tengah permukiman warga. Memang benar,
satu per satu mulai berdatangan, seperti menyatakan siap untuk berpeluh
keringat dan beradu keahlian untuk mencetak gol. Pertandingan dimulai tanpa
tiupan pluit, cukup jumlah pemain seimbang dan kedua tim sudah sama-sama siap.
Selama kurang lebih tiga jam bola
diperebutkan, tendangan demi tendangan dilesatkan. Satu dua tendangan
membuahkan gol, namun beberapa lainnya terpaksa mencium atap atau tembok rumah
warga. Warga marah? Jelas… permainan berakhir? Tidak…
Para pesepakbola muda amatiran ini seperti
tidak pernah kehabisan tenaga. Tiga jam lamanya, hanya mengambil waktu
istirahat beberapa menit untuk minum air es atau sekedar rebahan. Mereka tidak
pernah tau kapan harus berhenti, selain tiba saatnya adzan maghrib. Terkadang,
adzan maghrib pun tak cukup. Pluit lain yang tidak kalah efektif adalah
teriakan melengking para emak-emak berdaster, yang kalau sudah tak sabar, terpaksa
membawa ranting kayu atau ikat pinggang sebagai gertakan sambal.
Pesepakbola muda amatiran ini seluruhnya
adalah pelajar, baik negeri maupun swasta. Umum maupun kejuruan. Aktivitas
sekolah kurang lebih tujuh jam tidak jadi masalah, karena seusai sekolah bisa
main bareng temen-temen di lingkungan rumah. Apalagi kalau bukan sepakbola.
Tapi semua itu hanya kisah klasik satu dekade
yang lalu…
Hari ini senja tak lagi sama…
Sejak narkoba dikenalkan secara diam-diam di
Desa Tanjung, para pemuda jarang bermain sepak bola. Mereka harus senantiasa
bekerja, menghasilkan uang, agar di akhir pekan bisa membeli narkoba. Kalau
uang lagi banyak, maka banyak juga yang dibeli. Jika uang tidak cukup,
cenderung dipaksakan untuk tetap beli, meskipun harus menjual aset yang ada.
Handphone adalah aset yang paling umum diperjualbelikan, selain ukurannya kecil
sehingga mudah dibawa kemana-mana, juga cepat lakunya karena dijual relatif
murah.
Narkoba punya dampak yang luar biasa, tidak
hanya merubah kepribadian seseorang, namun juga perlahan merusak hubungannya dengan
lingkungan sekitar, khususnya keluarga dan masyarakat. Seorang anak relatif
muda rela mencuri uang orangtuanya hanya untuk bisa membeli sepaket narkoba.
Meskipun orangtuanya tau perbuatan itu tidak baik, mereka seperti tidak bisa
berbuat apa-apa. Pernah mencoba untuk memberi nasehat, nyatanya anak relatif
muda tersebut justru pergi dari rumah. Kasus lain, seorang suami secara tidak
sadar terus memaki istrinya, nyaris setiap hari seperti rumah tangga mereka
tidak pernah harmonis. Penyebabnya karena sang istri ingin suaminya berhenti
pakai narkoba. Tapi sayang, hingga sang istri memutuskan untuk pergi dari rumah
dan mengajukan cerai, suami tersebut tidak berubah.
Narkoba murah di awal, menyengsarakan hingga
akhir. Praktik jual beli narkoba tak beda halnya dengan strategi marketing pada
umumnya. Promosi harga, kemasan menarik, dan pendekatan secara persuasif untuk
menarik calon konsumen membeli hingga akhirnya mengkonsumsi secara
berkelanjutan. Setelah berhasil, perlahan promo dikurangi dan diberlakukan
harga normal. Sayangnya bagi pemakai narkoba, ketika mereka telah ketagihan,
meskipun harga dinaikkan, mau tidak mau mereka harus membeli. Karena jika
tidak, dirasakan seperti ada sesuatu yang kurang. Ketenangan dan kenikmatan
duniawi…
Pada puncaknya, narkoba bisa membuat pengguna
benar-benar menjadi durhaka. Memaksa orangtua menjual aset yang ada, hanya
untuk memenuhi kenikmatan sesaat. Tidak ada penyesalan, yang ada hanya
bagaimana bisa terus dan terus menggunakan narkoba.
Senja tak pernah lagi sama… Desa Tanjung
mulai kehilangan bibit-bibit produktifnya. Pemuda yang diharapkan mampu menjadi
agen perubahan desa, saat ini tengah kehilangan arah.
Penduduk Desa Tanjung sangat paham akan situasi
yang sedang dihadapi, namun apa daya, alasan ekonomi dan kekeluargaan menjadi
faktor utama bisnis haram ini masih berlangsung. Pengedar adalah sanak saudara,
pengguna adalah keluarga. Dilema yang sangat besar.
Pernah berharap agar pihak berwajib punya
inisiatif dan kemudian menindak. Namun, dewi fortuna tak kunjung datang.
Nyatanya, tertulis di kantor mereka bahwa Desa Tanjung adalah Desa bebas
narkoba.
Semoga situasi dapat berubah… Penegakan hukum
harus jadi panglima.. Mengadili siapa yang salah tanpa memandang kasta terlebih
lagi harta… karena pemuda adalah aset bangsa… tanpanya seluruh pembangunan akan
terkendala…
Senja di Desa Tanjung…
Mogok Nasional: Serikat Pekerja dan Pengaruhnya
Mogok
Nasional: Serikat Pekerja dan Pengaruhnya
Oleh:
Abi
Pratiwa Siregar
Saat ini, kita ketahui bahwa selain #PAPAMINTASAHAM,
isu nasional yang tidak kalah penting adalah mogok nasional. Dilansir dari smeaker.com bahwa aksi mogok nasional
diilakukan oleh sekitar 4-5 juta buruh/pekerja dari berbagai organisasi dan 22
provinsi di seluruh Indonesia, yang berlangsung selama 4 hari hingga 27
November 2015. Terdapat tiga tuntutan yang diajukan, yaitu: (1) pencabutan PP
No. 25/2015, (2) membatalkan penetapan formula kebijakan upah, dan (3)
menaikkan upah pekerja 2016 sebesar 25 persen.
Mogok
nasional dapat terselenggara karena hadirnya serikat buruh/serikat pekerja,
yang menurut maksud dan tujuannya adalah: (1) melindungi, membela hak dan kepentingan
pekerja, memperjuangkan perbaikan upah, dan kondisi kerja, (2) melindungi
pekerja terhadap ketidakadilan dan diskriminasi, (3) memperbaiki kondisi kerja
dan melindungi lingkungan kerja, (4) mengupayakan agar manajemen mendengarkan
suara pekerja sebelum membuat keputusan, dan (5) mencegah terjadinya Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK) (Budiarti, 2008).
Borjas
(2008) mengatakan bahwa keputusan seorang pekerja untuk bergabung dalam serikat
pekerja ditentukan dari apakah dengan bergabung tersebut akan terjadi kenaikan
tingkat upah atau justru malah sebaliknya. Seorang pekerja tentu akan bergabung
apabila tingkat upah dapat lebih tinggi jika dibandingkan dengan tidak
bergabung. Karena dengan naiknya tingkat upah, maka kepuasaan pekerja tersebut
akan meningkat. Hal ini diilustrasikan pada gambar 1 di bawah.
Gambar 1.
Keputusan Bergabung dengan Serikat Pekerja









