Menulis. Menyebarkan. Saling menginspirasi.

Candi Cetho, Candi Sukuh, Tawamangu : Sebuah Perjalanan Efisien dan Efektif

Setelah mencari info, melihat jadwal kosong, dan menahan laju pengeluaran sehari-hari selama kurang lebih 2 minggu, akhirnya cita-cita jangka pendek dapat direalisasikan, yakni jalan-jalan ke Candi Cetho dan Candi Sukuh, serta Tawamangu.
Beruntung sekali dalam perjalanan kali ini, saya punya teman yang tinggal di Solo, Karanganyar, dan pernah kuliah di UNS. Sehingga, perencanaan perjalanan bisa lebih detail.

Perjalanan kali ini cukup menantang, karena selain kondisi Dudung (motor mio, red) yang kurang prima, juga jalanan Jogja – Tawamangu yang membingungkan. Membingungkan karena harus melewati Kota Solo yang jalannya kebanyakan satu arah dan antar satu bangunan dan bangunan lain persis sama (bangunan tua, red). Sebagai info, dalam solo travelling, saya lebih senang bertanya kepada masyarakat sekitar, dibandingkan menggunakan GPS. Ada feelnya. Bisa berinteraksi dan tidak jarang mendapatkan info-info tambahan, seperti lokasi yang harus dikunjungi, jalan pintas, dan sebagainya.
Share:

Random: Aku Bercumbu untuk Melihatmu

AKU BERCUMBU UNTUK MELIHATMU

Pagi ini. Seperti biasa. Terbangun oleh suara alarm dari handphone yang terletak di dekat kuping. Aku tidak mengenal radiasi. Aku tidak mengenal efek samping. Bangun tidur tepat waktu jauh lebih penting bagiku daripada memikirkan hal-hal yang sama sekali aku tidak paham.

Waktu di handphone menunjukkan pukul 05.37. Tepat seperti perkiraan. Bangun tidur tidak lebih dari jam 05.45, agar seluruh kegiatanku di hari ini dapat berjalan dengan lancar. Hari ini adalah salah satu hari penting dalam hidupku. Hari ini aku dan Budi merayakan 2 bulan kami berpacaran.

Namaku adalah Rini, seorang mahasiswi semester 4 di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Aku dan Budi kuliah pada universitas yang sama, tapi berbeda jurusan. Budi di fakultas teknik, sementara aku di fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA). Kami bertemu di sebuah acara musik yang di adakan di fakultas teknik. Saat itu, aku dan Budi tidak saling kenal. Kami diperkenalkan oleh Dio. Dio adalah teman SMAku dan teman kuliah budi.
Share:

Saling bantu karena kita adalah satu

Akhir-akhir ini, Bangsa Indonesia seperti terguncang. Bukan, bukan terguncang, melainkan mulai membuka mata. Tidak bisa dipastikan darimana, apa, atau siapa pemicunya. Serentetan peristiwa terus hadir silih berganti untuk memanggil jiwa pancasila bangsa yang bernafaskan kebersamaan ini. Pada hari Rabu, 12 Februari 2014. Seseorang yang baik hati, dermawan, dan berjuang untuk rakyat dengan segenap jiwa raga, meluapkan isi hatinya yang sedang gelisah di sebuah acara televisi swasta. Panggilannya adalah Bu Risma, walikota Surabaya, salah satu kota metropolitan di Indonesia. Saya kira, tidak ada yang tidak tau Surabaya. Apalagi Surabaya merupakan ibukota Provinsi Jawa Timur. Akan tetapi, melalui prosentase, bisa dikatakan bahwa lebih dari 80% masyarakat non-Surabaya, banyak yang tidak tau perkembangan atau perubahan dari sentuhan Bu Risma kepada Surabaya.

Saya termasuk dari masyarakat non-Surabaya yang tidak tau tersebut. Bulan Maret 2013 adalah waktu terakhir kali ke kota Pahlawan. Ketika itu, menurut pandangan saya, tidak ada yang berbeda karena tidak begitu memperhatikan detail demi detail. Seperti biasa, dengan jalanan yang lebar dan dihiasi pepohonan rindang, lalu lintas yang rapi dengan suara rekaman arahan-arahan berlalu lintas, macet, teriknya matahari, Surabaya di tahun 2013 tidak berbeda dengan Surabaya yang saya kunjungi tahun 2009 dan 2010.
Share:

Malam minggu? SANTAI AJA MBLO!

Judul tulisan kali ini berbau provokatif. Memang bau, memang provokatif.

Seperti biasa, setiap sabtu malam tiba, atau biasa dikenal dengan SatNite atau Malam Minggu, pasti akan ada yang berkata, ''malam minggu sendirian mblo'', ''malam minggu kemana mblo'', ''masa malam minggu cuma makan kacang sambil nonton tv mblo'', dan kata-kata yang menyinggung jomblo lainnya. 

Seriously, pada awalnya keluar kata-kata tersebut terdengar asyik, karena bisa dijadikan bahan buat becandaan. Tapi pada akhirnya, jomblo-jomblo yang semula tidak tersinggung, akhirnya menjadi tersungging, eh salah, tersinggung maksud saya. Sementara itu, ada juga beberapa jomblo alay, yang menjadi panik apabila malam minggu tiba. Kalau khusus tipe alay, Bung Rhoma berkata, SUNGGUH TERLALUUUU.
Share:

Unnamed

Karena kebanyakan nonton film action, dan terutama film perang (akhir-akhir ini), saya sempat berpikir ''jadi sebenarnya  Amerika Serikat itu suatu negara yang 'jahat' atau negara yang 'baik' ''. Seperti pada film Argo,  Zero Dark Thirty, dan lain-lain yang menghubungkan antara AS dengan negara timur (Iran, Iraq, Afganistan, dll), bisa dipastikan bahwa di film itu menceritakan keberhasilan pemerintah AS melalui pasukan militernya/hubungan diplomasinya.

Saya berpikir begini . . . 

1. Mungkinkah seluruh teroris yang diceritakan oleh kaum barat itu sebenarnya tidak ada? atau mungkin yang sebenarnya ada hanyalah penciptaan opini publik bahwa ada seseorang yang menjadi teroris, yang kemudian membombardir suatu negara/ bunuh diri dengan bom dengan alasan jihad?
Share:

Tangan Kanan Memberi, Tangan KIRI Tidak Boleh Tau

Apakah karakter bangsa ini memang selalu ingin dipuja dengan segala kelebihannya?
Apakah memang setiap orang di dalam negeri ini ingin dikenal sampai akhir hayat hidupnya?
Apakah memang di negeri ini semua orang ingin menyaksikan apa yang dipertontonkan?
Atau, apakah ini hanya pendapat saya yang cenderung melenceng dari kenyataan . . . 

Banyak peristiwa yang saya alami dari hari ke hari, baik itu mempengaruhi saya secara langsung ataupun tidak. Malam ini, sama seperti malam sebelumnya di bulan ramadhan, saya tidak ikut sholat tarawih di mesjid. Walaupun tidak ikut sholat tarawih, saya bisa mendengarkan kegiatan di mesjid dengan jelas -jarak antara toa mesjid dan kamar saya bisa dibilang dekat-. 

Ada hal unik yang saya dapat, biasanya penceramah di mesjid akan mengutarakan berbagai hal mengenai keagamaan, namun hari ini entah mengapa saya tidak mendengarnya (atau mungkin saya tidak merasa mendengarnya). Dari balik jendela kamar, saya mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh penceramah. Pada awalnya ia (penceramah, red) sedikit mengutarakan apa yang dialaminya pada hari ini, selanjutnya ia mulai masuk kepada topik utama, yakni pembangunan mesjid.
Share:

Dieng

Menurut saya......
Inti dari sebuah perjalanan adalah bukan pada seberapa tinggi dan banyak gunung yang didaki, bukan seberapa banyak pantai indah yang dikunjungi, dan bukan seberapa banyak kota wisata yang didatangi.
Inti dari sebuah perjalanan adalah bagaimana menikmati perjalanan tersebut, yang didalamnya terdapat senang dan susah.

Ada banyak cara untuk menghabiskan uang Rp 200.000
Para pecinta yang mengajak pacarnya untuk makan malam
Para pelajar yang membeli buku
atau para pemuda/pemudi yang membeli pakaian baru

Untuk kali ini, saya tidak berada pada list diatas. Saya menikmati uang Rp 200.000 untuk menambah catatan perjalanan saya di Pulau Jawa. Tepat tanggal 6 Juli 2013, saya pergi ke Dieng bersama beberapa teman yang berasal dari Medan. Komposisinya adalah 6:2, 6 perempuan dan 2 lelaki. Selain saya, lelaki itu adalah Imam.
Share:

Juragan

Popular Posts